Saham Asia mulai bulan baru dengan sebuah pijakan kuat, obligasi di bawah tekanan

Pada hari Senin ini Saham Asia Telah berumur 2 tahun, memulai bulan baru di bulan juli dengan pijakan yang solid dengan dua perempat kenaikan nilai saham. Sementara keinginan untuk pengetatan kredit oleh bank sentral utama dunia membuat pasar obligasi global berada di bawah tekanan.

Indeks MSCI yang merupakan indeks terbesar di Asia-Pasifik di luar Jepang tidak mengalami kenaikan atau penurunan (datar), bertahan dalam sepekan dari puncak dua tahun yang dipukul pekan lalu.

Nikkei Jepang menguat 0,2 persen sementara indeks saham AS menguat 0,2 persen.

“Pasar saham global sejauh ini bertahan imbas dari hasil obligasi jangka panjang,” kata Masahiro Ichikawa, ahli strategi senior di Sumitomo Mitsui Asset Management.

Tanda-tanda stabilisasi ekonomi China dan pemulihan ekonomi Eropa turut mendorong kenaikan harga saham global pada semester pertama tahun ini.

Sebuah survei sektor swasta mengenai manufaktur China menunjukkan pemulihan yang mengejutkan, yang semakin mengukuhkan pertumbuhan ekonomi China merupakan terbesar kedua di dunia.

Hasil survei yang dilakukan oleh Bank of Japan’s Tankan Corporate menunjukkan sentimen bisnis Jepang meningkat sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Di Wall Street, S & P 500 mencetak kenaikan terbesar untuk paruh pertama tahun ini sejak tahun 2013, sementara kenaikan di paruh pertama untuk Nasdaq Composite merupakan kenaikan terbesar dalam delapan tahun terakhir.

Sementara itu saham Eropa mengalami hal yang berkebalikan, yang merupakan imbas dari Bank Sentral Eropa dan Bank of England mengisyaratkan kesiapan mereka untuk memperketat kebijakan moneter mereka.

Imbal hasil obligasi global mengalami peningkatan tajam menyusul komentar dari Presiden Bank Sentral Eropa, Mario Draghi pada hari Selasa lalu, dengan German Bond Yields mencatat kenaikan mingguan terbesar mereka sejak Desember 2015 minggu lalu. Hal ini juga membantu untuk menarik saham A.S. Bond Yields dari posisi terendah.

Kenaikan tersebut terjadi bahkan ketika inflasi A.S. mulai dinormalkan di bulan Mei. Kenaikan tahunan terjadi di harga pokok, namun tidak termasuk makanan dan energi yang melemah diangka 1,4 persen, terendah sejak Desember 2015.

“Beberapa minggu kedepan, kita akan melihat pemulihan di momentum A.S. akan menjadi isu utama,” kata Hirokazu Kabeya, kepala strategi global Daiwa Securities.

Di pasar mata uang, euro diperdagangkan pada angka $ 1,1417, tidak jauh dari level tertinggi minggu lalu di angka $ 1,1445, yang merupakan level tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Dolar diperdagangkan pada 112,35 yen, dari level tertinggi di enam minggu terakhir pada hari Senin di angka 112,93.

Yen sempat menguat karena kekhawatiran kebijakan refleksi Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang mungkin berisiko. Kebijakan ini dikeluarkan setelah Partai Demokrat Liberal mengalami kekalahan bersejarah dalam pemilihan lokal di Tokyo pada hari Minggu lalu, meskipun diduga dampaknya tidak berlangsung lama.

Harga minyak mentah Brent naik 0,3 persen menjadi $ 48,90 per barel sementara harga minyak mentah A.S. naik 0,5 persen menjadi $ 46,26 per barel.

Di Timur Tengah, saham Qatari merosot ke posisi terendah dalam 1 1/2 tahun terakhir pada hari Minggu. Hal ini dikarenakan tenggat waktu bagi Doha untuk menerima serangkaian tuntutan politik oleh empat negara Arab diperkirakan akan berakhir pada akhir hari tanpa ada tanda-tanda krisis akan berakhir.

Sumber: http://www.reuters.com/article/us-global-markets-idUSKBN19O037